KOMPAS.com - Setiap manusia yang lahir ke dunia mewarisi gen dari orangtua bahkan nenek moyangnya. Itulah yang mendasari mengapa kepribadian anak dan orangtua memiliki banyak kesamaan baik dalam aspek fisik dan psikis, termasuk soal bakat. Secara harafiah bakat merupakan pembawaan, sifat atau kepandaian dalam konteks tertentu.
Dengan demikian, aliran nativisme ini termasuk yang bersifat pesimistis dalam memandang pendidikan, yakni bahwa pendidikan tersebut sebagai yang tidak ada nilainya. Jika pandangan kaum nativisme tersebut dihubungkan dengan ajaran islam tampak bahwa ajaran tersebut tidak sepenuhnya dapat diterima.
Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan anak antara lain garis keturunan, lingkungan, stimulus, pendidikan serta kondisi sosial dan ekonomi. Perkembangan anak dipandang secara berbeda-beda oleh tiap aliran filsafat. Beberapa aliran filsafat yang memiliki kajian tentang perkembangan anak ialah empirisme, nativisme dan naturalisme.
2. Faktor dan Latar Belakang Pembaharuan Pendidikan Islam Kalau kita kaji perjalanan sejarah umat Islam paling tidak dapat kita ketengahkan dua faktor dan latar belakang diadakannya Pembaharuan Pendidikan Islam pada abad modern. a. Kondisi internal dunia Pendidikan Islam pada zaman pertengahan Islam, termasuk kondisi Muslim pada umumnya. b.
Nativisme. Aliran ini adalah penganut dari ajaran filsafat idealisme. Tokoh nativisme adalah Arthur Schopenhauer (1788-1860) yang berpandangan bahwa faktor pembawaan yang bersifat kodrat dari kelahiran dan tidak mendapatkan pengaruh dari alam sekitar atau pendidikan sekalipun, dan itulah yang
Teori empirisme bertolak belakang dengan teori nativisme, karena mengabaikan adanya pengaruh dari faktor bakat atau potensi bawaan dalam proses pendidikan. Maka itu, teori ini menekankan ke pentingnya pengalaman, lingkungan, dan pendidikan dalam proses perkembangan anak.
.
mengapa aliran nativisme menolak pengaruh pendidikan